Plumbum

Mengapa Harus Ibu?

Posted on: March 9, 2008

 Seorang ibu ingin tahu pendapat anaknya yang masih sekolah di TK tentang ibu gurunya, “Siapa guru yang paling kau sukai?” “Ummi,” si anak menjawab “Maksud Ummi diantara Ibu A dan Ibu B siapa yang paling kau sukai?”
Si anak tetap dengan pendapatnya, “Aku paling senang Ummi yang mengajar
Sang ibu masih penasaran akhirnya bertanya “Oh ya, Ummi nomer satu ya, yang nomer dua dan tiganya siapa? Barulah si anak menjawab Ibu anu kemudian Ibu anu.
Percakapan ibu dan anak di atas sekilas tampak biasa, namun ada sesuatu yang seringkali bertolakbelakang dengan mitos yang selama ini berkembang, yaitu anak sulit diajari ibunya. Kerap terdengar keluhan dari para ibu, “Anak saya paling tidak mau kalau saya yang mengajari. Makanya saya panggil guru ke rumah untuk mengajari dia.”
Disamping itu banyak juga ibu yang mengikutkan anaknya les ini dan itu, padahal sebenarnya mungkin masih bisa dilakukan oleh sang ibu. Bahkan, belakangan ini kian menjamur sekolah bagus dan menawarkan begitu banyak konsep yang menggiurkan. Hal ini, di satu sisi menjadi solusi positif bagi pendidikan anak-anak kita. Namun di sisi lain kian menciutkan tuntutan peran ibu sebagai pendidik.
Banyak ibu yang anaknya sekolah di tempat bagus dan mahal merasa tidak perlu mengajari anaknya di rumah. “Untuk apa bayar mahal, kalau saya masih harus mengajarinya di rumah!” Bukankah kita menginginkan potensi anak kita optimal? Salah besar, jika kita merasa rugi kalau mengajari anak kita sendiri.
Sebenarnya, ibu sangat potensial untuk menjadi guru terbaik bagi anaknya. ibu adalah orang yang paling dekat dan paling bisa mengerti anaknya. Selama sembilan bulan dalam kandungan, dua tahun dalam dekapan, adalah modal yang cukup bagi ibu untuk meyakini bahwa ibulah yang paling dekat dan paling memahami keinginan sang anak. Ibu akan lebih tahu cara terbaik untuk mengajari anaknya, ibu adalah orang yang paling menginginkan anaknya pandai. Kalau seorang ibu meyakini bahwa ia akan bisa mengajari anaknya, maka usaha seorang ibu untuk memandaikan anaknya akan jauh lebih besar dibanding gurunya. setiap hari umumnya ibu adalah orang yang paling lama berada dekat anaknya. Setiap waktu, pada saat memasak, menyiram bunga, atau saat santai, ibu dapat menjelaskan apa saja pada anaknya. Mengapa air mengalir, mengapa ada embun di kaca jendela kalau hujan turun, mengapa, mengapa dan apa jawabannya, bisa ibu jelaskan.
So…, ketika anak tak mau diajari ibunya, jangan salahkan dulu sang anak. Introspeksilah diri kita terlebih dahulu. Mungkin kita kurang sabar, mungkin kita agak malas, mungkin kita terlalu berambisi, dan begitu banyak kemungkinan lain yang harus kita perbaiki. Nah, kepada para ibu selamat menjadi guru terbaik bagi putra-putrinya.

http://www.hidayatullah.com/majalah Edisi 09/XVI 2004 – Jendela Keluarga – Celah

1 Response to "Mengapa Harus Ibu?"

krn ibu adlh sglnya..perjuangannya sgt besar dlm hidup qt..doanya mustajab..dan jk qt bebuat baik pd beliau maka Alloh menjanjikan surga sbg balasaanya..
smg qt trmsk gol.yg beruntung…amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 99,684 hits

Top Clicks

  • None

Archives

%d bloggers like this: