Plumbum

Penulis “kaya” dan kaya

Posted on: March 8, 2008

Penulis merupakan salah satu profesi yang belum populer di Indonesia tercinta ini. Profesi penulis masih dipandang sebelah mata. Dapatkah kita hidup layak dengan menulis? Mungkin beberapa uraian berikut dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Seorang penulis sudah dapat dipastikan adalah seorang yang ‘kaya’. Menulis buku atau karya lain berarti memberikan pemikiran kepada orang lain. Orang yang berposisi memberi pasti lebih kaya ketimbang yang diberi. ‘Kaya’ disini berarti kaya ilmu, wawasan, imajinasi dan ide. Bukankah sebelum berkarya seorang penulis harus membaca (bahan bacaan yang tersurat atau yang tersirat). Tulisan bagus hanya akan lahir dari penulis yang lahap membaca. Prinsip inilah yang membuat penulis ‘kaya’

Namun penulis yang sukses juga bisa kaya secara finansial. Beberapa contoh penulis yang dapat kita ambil, misal Asma Nadia, adik Helvy Tiana Rosa, sudah menulis lebih dari 30 buku, dan Asma Nadia minimal menerima royalti Rp30juta tiap 3 bulan, atau Rp10juta tiap bulan. Penulis novel lupus, Hilman, menerima Rp800juta dalam lima tahun penerbitan. Lalu Habiburrahman El-Shirazy, lewat Ayat-ayat Cinta, telah menerima 1.5miliar untuk ratusan ribu buku yang terjual kurang dari empat tahun.

Lalu, Mohammad Fauzil Adhim, penulis yang lekat dengan tema pernikahan dan parenting itu. Dari salah satu buku, 20 judul buku telah ditulisnya, Kupinang Engkau dengan Hamdalah, yang telah terjual 100.000 eksemplar, mendatangkan royalti antara Rp 15 juta – Rp 25 juta per bulan. Dan yang paling fenomental adalah Aidh Al Qarni yang karyanya La-Tahzan, telah terjual jutaan eksemplar di Timur Tengah dan edisi terjemahannya terjual ratusan ribu di Indonesia. Edisi terjemahnya dijual Rp 85.000 per buku. Sementara, rumus rata-rata penerbit saat memberi royalti adalah 10% x harga jual buku x jumlah buku yang dicetak. Berapa yang bisa diterima Aidh Al Qarni? silakan dihitung.

Sebuah buku dapat menjadi best seller jika penting, menarik, bagus dan sedang dibutuhkan masyarakat. Penting, artinya, topik yang dipilih memang bermanfaat bagi publik. Menarik, artinya, temanya menggoda karena menawarkan pengetahuan/hal-hal baru. Bagus, artinya, isi buku digarap secara serius dan dikemas dengan desain cover yang ‘cantik’ serta dengan kualitas cetakan yang prima. Sedang dibutuhkan masyarakat, artinya, kemunculan buku itu bersamaan dengan masyarakat yang sedang memerlukan.

Lihat, AAC hadir sebagai novel pembangun jiwa di saat publik (mulai) muak dengan roman-roman beraroma syahwati nan vulgar. Lalu, terjemah La Tahzan, secara umum, muncul secara tepat ketika bangsa ini dicekam rasa sedih berkepanjangan akibat krisis multidimensi yang sepertinya tak menampakkan tanda segera berakhir.

Profesi menulis merupakan milik setiap orang, tak peduli tua atau muda, kaya atau miskin. Menjadi penulis dapat dijadikan pilihan untuk menopang hidup, namun juga dapat dilakukan sebagai profesi sekunder selain sebagai seorang profesional. Marga T dan Faisal Baraas adalah contoh penulis yang berprofesi ganda. Ayo kita mulai menulis supaya menjadi ‘kaya’ dan kaya.

Disadur bebas dari sumeks, 040307, saat di dog house, Talang Jimar. Penulis artikel M Anwar Djaelani.

2 Responses to "Penulis “kaya” dan kaya"

ada juga di jawapos tuh hari ini artikel mas.
sibuk apa skrg mas?

hmm…lagi sibuk ngebor
gmn kbr Arul dan Lab B102 eh udah ganti B103 ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 99,684 hits

Top Clicks

  • None

Archives

%d bloggers like this: