Plumbum

Optimalisasi Zakat di Indonesia

Posted on: February 26, 2008

            Sebuah refleksi sejarah membuktikan bahwa Keemasan Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuktikan semangat untuk mentransformasikan mustaqih menjadi muzakki bukan sekedar harapan kosong atau angan-angan belaka. Berdasarkan segi manfaatnya zakat dapat dibedakan menjadi dua macam, zakat konsumtif dan zakat produktif. Kedua jenis zakat ini baik adanya, namun yang terpenting adalah sampai kepada mustaqih.

 

            Zakat produktif dalam implementasinya harus memperhatikan kaidah-kaidah tertentu seperti dana zakat tidak segera dibutuhkan, mampu memberikan pembinaan dan pendampingan kepada mustahiq, diinvestasikan dalam bidang legal, ada jaminan investasi tersebut menguntungkan dan yang terakhir adalah dapat dicairkan dengan mudah.

 

            Peluang zakat di Indonesia masih sangat besar untuk dioptimalkan lagi. Hal tersebut dapat dilihat dalam kenyataan bahwa 39 juta penduduk Indonesia masih dalam taraf kemiskinan. Balita bergizi buruk masih mencapai 2,3 juta, AKI yang tinggi mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup, AKBA 46 per 1000 kelahiran hidup, 210 ribu penduduk mengalami kebutaan yang 90 % penyebabnya adalah katarak karena kekurangan gizi, 54 % anak putus sekolah dari tingkat SD sampai dengan SMP, pengangguran menembus angka 10,6 juta bahkan pengangguran terselubung mencapai 40 juta.

 

            Kemiskinan dapat disebabkan banyak factor yang beragam dan kompleks. Keterbatasan sumber daya alam adalah factor alamiah yang dapat menyebabkan kemiskinan. Faktor Struktur yaitu kebijakan yang tidak bepihak atau hanya menguntungkan sebagian kecil orang saja. Faktor cultural yang dapat berupa budaya dan pola pikir masyarakat yang masih konvensional. Hal-hal tersebut adalah tantangan-tantangan yang harus dihadapi guna melakukan optimalisasi zakat di Indonesia. Dilapangan tidak sedikit program-program pemberdayaan yang kandas di tengah jalan. Sebagian besar disebabkan oleh karakter dan pola pikir masyarakat yang tidak produktif, sehingga tidak ada keterlibatan aktif dari masyarakat itu sendiri. Kunci dari semua ini adalah BAZ (Badan Amil Zakat) maupun LAZ (Lembaga Amil Zakat) harus mendesain dengan kreatif program pemberdayaan zakat.

 

            BAZ dan LAZ harus melakukan hal-hal di bawah ini:

  1. Mampu memberikan pembinaan dan pendampingan kepada mustahiq

Peran pendamping meliputi, sebagai fasilitator yang merupakan peran yang berkaitan dengan pemberian motovasi, kesempatan dan dukungan bagi masyarakat, mampu menumbuhkan kembali karakter produktif kemudian sebagai pendidik, sehingga pendamping mampu berperan aktif untuk membangkitkan kesadaran masyarakat menyampaikan informasi, atau menyelenggarakan pelatihan-pelatihan. Peran perwalian masyarakat, ini dilakukan dalam kaitannya dengan interaksi antara pendamping dengan lembaga-lembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat dampingannya. Peran teknis, mengacu pada aplikasi keterampilan yang bersifat praktis seperti; melakukan analisis sosial, mengelola dinamika kelompok, menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi, memberikan konsultasi dan mencari serta mengatur sumber dana. Pendampingan menjadi hal yang sangat penting sehingga harus dilakukan dengan kontinu atau berkesinambungan.

  1. Mampu Mendesain program dengan baik

Dalam tataran konsep, teori comdev diyakini merupakan cara yang tepat dan cepat untuk mengatasi kemiskinan yang ada. Cara tersebut adalah dengan; Memandirikan masyarakat, membangun bersama masyarakat, membangun berdasarkan kepada kebutuhan masyarakat, terpadu dan berkesinambungan.

           

Program didesain dengan terpadu dan berkesinambungan meliputi Studi kelayakan/identifikasi, Konseptual Model Intervensi, Desain Program, Rencana Kerja, budget dan Sumber daya, Implementasi, Monitoring dan Evaluasi. Demikian seterusnya dilakukan terus menerus dan berkesinambungan

Penjelasan di atas adalah sebagian materi yang disampaikan di pelatihan zakat BAZMA pada tanggal 15 Februari 2008, di Komperta (Komplek Pertamina) Prabumulih Palembang tepatnya di gedung pramuka. Materi yang membahas mengenai Optimalisasi Zakat di Indonesia ini disampaikan Sri Nurmiyanti, selaku Program head Rumah Zakat Indonesia.

12 Responses to "Optimalisasi Zakat di Indonesia"

assalamu alaykum..

barokallohufikum..akhirnya kesampaian jg nulisnya..
andai saja semua mau zakat dg bnr pasti ga kan ada busung lapar dan kemiskinan…syariat Alloh mmg sgt indah..

wassalam..

Asslamu’alaikum wr.wb.

Syariah Allah memang indah dan merupakan satu-satunya solusi bagi setiap problematika masyarakat dunia, Indonesia khususnya. Syariah Allah yang mengatur tentang zakat adalah salah satu solusi tepat untuk mengatasi permasalah ekonomi di Indonesia. Hal ini bukan hanya sebuah kewajiban bagi individu muslim, tetapi negara juga wajib ikut andil/berperan dalam mengendalikannya sebab Rasulullah dulu juga mengurusi ummatnya melalui lembaga/institusi negara khilafah (negara islam). Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sukses mengatur perekonomian masyarakatnya dengan zakat melalui pengendalian oleh negara yang dikuasainya yang diatur berdasarkan syariah Islam.

Waalaykumsalam warohmatullahi wabarokatuh
iya, smw hal jika dilakukan dngn sungguh2 dan profesional, maka akan dapat hasil yang maksimal

ana ma’ak ya akhi!..

minta artikel’y Y…

Silakan..
Makasih

saya sangatsependepat, lagi-lagi kita sebagai umat yang sangat disayang Allah ini masih belum banyak kemapuan menggali berbagai potensi yang disediakan oleh Sang Khaliqul Alam, Robbul Alaamin. Potensi zakat yang demikian besar dan strategispun masih terlupakan, baik oleh para Muzaki maupun para penguasa untuk dikembangsuurkan sebagai aset umat dalam menanggulangi berbagai masalah kehidupan yang menyangkut upaya meningkatkan harkat, martabat, serta kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu, Indonesia yang mayoritas penduduk beragama Islam, maka zakat sudah saatnya dijadikan sumber bagi pemberdayaan umat Islam. Saya yakin, Allah SWT akan memberi petolongan kepada bangsa kita saat zakat dijadikan aset bagi pemberdayaan ekonomi umat Islam pada umumnya ,dan khususnya bagi pemberdayaan kaum dhuafa.

Iya Mas..ayoo kita budayakan berzakat..
tidak berzakat? apa kata dunia🙂

mari kita generasi muda bangsa Indonesia, bangkit dan bergeraklah untuk mengubah masib bangsa kita. Banyak potensi yang dapat dikembangkan dan yakinlah bahwa kita bangsa yang besar dan bukan bangsa yang cengeng. Berbuatlah sesuatu yang memberi manfaat serta kegunaan bagi bangsa dan negara. Ingat, bahwa ditangan generasi muda-lah masa depan bangsa dan negara kita. Jadilah generasi yang dapat diandalkan bagi penerus cita-cita para pendahulu kita. Zakat adalah salah satu potensi untuk pemberdayaan ekonomi bangsa kita yang myoritas umat Islam. Oleh karena itu, sosialisasi, advokasi tentang zakat produktif menjadi alternatif yang dapat dilakukan. Tentu saja untuk hal-hal yang kosumtif tidak serta merta ditiadakan. Karena memang kenyataannya banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan. Selamat kepada generasi muda yang peduli terhadap pemberdayaan kaum dhuafa melalui zakat produktif.

semoga semakin sejahtera rakyat indonesia dengan zakat
afwan ane ambil artikelnya tuk bahan tugas

Amin ya robb…
silakan diambil….
sukron dah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Blog Stats

  • 99,684 hits

Top Clicks

  • None

Archives

%d bloggers like this: