Plumbum

PILIHAN BERNAMA PERUBAHAN

Posted on: June 29, 2007

 Mengapa Pertamina harus berubah, harus besar, harus mendunia, dan perubahan itu harus cepat?
Pertamina adalah milik negara dan bangsa. Stakeholders berharap sekali perusahaan ini bersih KKN, besar dan berdaya saing, serta mampu melayani dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dan memenuhi pundi-pundi negara.
Akibat ekspektasi tinggi seperti itu, perubahan Pertamina menjadi satu-satunya pilihan.
Tak hanya itu pendorong peru¬bahan Pertamina. Tapi juga peru¬bahan global yang menuntut semua pelaku usaha berubah.
Ahli filosofi asal Skotlandia yang kemudian menaruh perhatian pada urusan ekonomi, John Adam Smith (5 Juni 1723 – 17 Juli 1790), kalau saja kini masih hidup mungkin akan bahagia, karena konsep ekonomi liberalisme¬nya seperti ditulis dalam bukunya, The Wealth of Nations (1778), ternyata dua belas abad kemudian (1980-an) memenangkan pertarungan sengit melawan konsep ekonomi sosialisme Karl Marx.
Perang dingin AS versus Uni Soviet berakhir tahun 1980-an. Konsep liberalisme ekonomi yang diusung kelompok AS berjaya, melindas pa¬ham ekonomi sosial yang didukung Uni Soviet dan kawan-kawan.
Dampak kemenangan AS cs mengubah peta dunia. Terbentuklah kelompok ekonomi regional Uni Eropa, AFTA di kawasan Asia Teng¬ga¬ra, NAFTA di Amerika Utara, APEC di wilayah Asia Pasifik.
Suaranya sama, perdagangan bebas. Bebas bea masuk, bebas mono¬poli, bebas proteksi oleh suatu negara.
Di dalam negeri lahir UU yang mendukung liberalisme perdagang¬an. Terbitnya UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas adalah salah satu di antaranya. UU ini mencabut hak monopoli Pertamina seperti diatur sebelumnya oleh UU No. 8 Tahun 1971.
Pertamina menjadi PT Persero, dan sistem security of supply BBM tidak lagi memakai pola public service obligation (PSO) yang membebani Pertamina secara nirlaba. Pertamina harus berubah menjadi pure business entity. Tidak mudah, dan karenanya gerakan perubahan Pertamina tidak bisa dengan kecepatan sekadar berubah.
Pertamina sebagai pelaku usaha bidang migas telah diharapkan men¬jadi bagian dari solusi atas persoalan besar energi masa depan Indonesia.
Menipisnya SDA migas memaksa Pemerintah menyusun skenario Kebi¬jak¬an Energi Mix Nasional 2025. Ada upaya pemaksimalan energi non fosil.
Ada domain yang harus dimain¬kan Pertamina dalam kebijakan makro tersebut. Karena hingga tahun 2025 pemakaian energi masih tetap mengandalkan pemakaian gas bumi (30,6 persen), minyak bumi (26,2 persen), dan panasbumi (3,8 persen). Bahkan pada jenis energi lain, di antaranya biofuel (1,335) yang telah dimainkan sekarang oleh Pertamina.
Program Kebijakan Energi Mix Nasional 2025 bukan pekerjaan cetek. Harus melibatkan stakeholders energi, dari mulai Pemerintah Pusat dan Pemda, DPR-DPRD, kalangan indus¬tri, lembaga penelitian, perguru¬an tinggi, para pakar dan para investor, serta anggota masyarakat lain.
Ada tuntutan reposisi Pertamina sebagai produsen energi vital di dalam negeri. Misalnya, Pertamina tak cukup bermain di migas dan pabum di dalam negeri, juga harus mencari sumber-sumber daya jenis itu di luar negeri.
Pola ekspansi bisnis menjadi wajib adanya. Tetapi sebuah ekspansi hanya bisa dilakukan kalau perusahaan berada pada koordinat antara peluang (opportunity) dan kekuatan (strength).
Artinya, kalau Pertamina masih berada pada koordinat yang memiliki peluang (opportunity) tetapi masih banyak kelemahan (weakness), maka — meminjam teori konsultan manaje¬men Boston Consulting Group (BCG) — Pertamina masih harus melakukan restrukturisasi, agar titik kelemahan berubah menjadi titik kekuatan.
Perubahan Pertamina adalah mengantisipasi dan merespon peru¬bahan global yang cepat. Di bidang energi dalam negeri saja, misalnya, kebutuhan minyak bumi masih akan tetap dominan (26,2 persen) pada tahun 2025.
Masuknya Pertamina ke Libya, Malaysia, Vietnam, untuk kegiatan hulu, menyusul implementasi operasi di Irak, dan berancang-ancang masuk ke Equador, Qatar, Mesir dan Sudan, lalu ke Pakistan untuk kegiatan pe¬masaran pelumas, dan seperti selama ini penjualan LNG ke pasar-pasar tradisional — Jepang, Korsel, dan Taiwan — dan new market — China — akhirnya memang harus diperkuat lagi oleh ketangguhan Pertamina. Ke¬tangguhan dan competitiveness yang tidak main-main.
Untuk keperluan semua itu, Pertamina harus berubah, harus besar, harus mendunia, dan berubah cepat. • (Tim WePe)
Sumber: Warta Pertamina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

June 2007
M T W T F S S
« May   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 99,684 hits

Top Clicks

  • None

Archives

%d bloggers like this: