Posted by: yoma on: January 26, 2009
Menunggu, merupakan salah satu kegiatan yang paling membosankan. Apa lagi, menunggu sesuatu yang tidak pasti. Saat menunggu, tanpa kegiatan, berkecamuklah pikiran dengan praduga-praduga. Waktu akan terasa lebih lama saat kita melakukan kegiatan ini. Bosanlah yang menyebabkan waktu terasa lama. Menunggu selalu berkaitan dengan harapan, harapan untuk yang ditunggu segera datang dan terjadi. Supaya masa tunggu Anda tidak sia-sia sebaiknya berikan batas waktu sampai kapan anda akan menunggu. Batas waktu tergantung kesabaran anda melipat bosan dan merapikan harapan.
Tapi tahukah anda, pihak yang ditunggu juga tidak kalah pusingnya, khususnya pihak yang tahu bahwa dirinya sedang ditunggu. Dia juga pasti dalam kondisi yang bimbang dan terburu-buru. Pikirannya terbagi-bagi antara kegiatan yang musti segera diselesaikan dan memikirkan orang yang sedang menunggu. Sehingga akan menjadi tidak fokus dan kurang konsentrasi.
Akan berbeda keadaannya jika yang ditunggu tidak merasa bahwa dirinya sedang ditunggu. Keadaan ini yang kerap terjadi, kita menunggu sesuatu tapi yang ditunggu tidak mengetahui sama sekali. Kejadian minggu lalu ini juga berkaitan dengan masa menunggu. Seorang kawan jauh sedang sakit, badannya demam, perutnya sakit. Sudah menjadi langkah awal, kami putuskan untuk membawanya ke rumah sakit untuk melakukan cek darah. Sudah menjadi prosedur rumah sakit untuk mendata biodata calon pasien. Kebetulan kami mengisikan biodata untuk antre di poli no 2.
Cerita berlanjut, kami melalui masa menunggu, menunggu giliran untuk masuk dan melakukan pemeriksaan. Agak gundah juga hati saat menunggu, karena hari itu adalah hari kerja, jadi kami musti segera kembali bekerja. Kami dapat nomer 12 untuk masuk di poli no.2. Beberapa kali panggilan berlalu, namun tidak untuk poli no.2 yang masih diam membisu.
Setelah menunggu beberapa saat, sedikit hilang kesabaranku untuk melalui masa menunggu, karena kami juga akan segera jadi pihak yang ditunggu di tempat kerja jika terlalu lama menunggu di sini. Terbesit dalam pikiranku untuk mengkomunikasikan hal ini, ku ketuk pintu poli no.2 langsung ku buka. ternyata di situ hanya ada seorang perawat tanpa dokter. “Dokter sedang ada diruangnya” begitu ujar perawat itu setelah kutanyakan kenapa poli no.2 kok tidak ada panggilan. Ide lain lewat, kami berinisiatif untuk melakukan daftar ulang ke poli nomer lain, ternyata tidak bisa karena data sudah masuk. Kami dianjurkan untuk langsung masuk ke poli no.2 dan mengajukan keperluan kami. Ternyata kami disuruh perawat itu untuk langsung menuju lab untuk pengambilan darah yang hanya berlangsung kurang dari 5 menit.
Iya….kuncinya adalah komunikasi, komunikasikan dan kabarkan jika anda sedang dalam masa menunggu atau ditunggu. Meski dalam kenyataannya kadang tidak semudah itu dalam mengkomunikasikan. Komunikasikan, tentunya setelah anda sudah tidak mampu melipat bosan dan merapikan harapan. Atau anda akan melalui masa menunggu yang tanpa batas dan kejelasan, seperti kejadian diatas andai tidak dikomunikasikan.
Sebenarnya ada solusi lain yang bisa di lakukan saat menunggu, yaitu mengisinya dengan aktifitas2 Ibadah. Berdoa, agar kita segera mendapatkan apa yang kita tunggu. dlsb
Eh, kali ini tulisanmu bahasane kok apik yo??
“WOng yen lagi gandrung, ra peduli mbledose gunung”
“Wong yen lagi…………….., ra peduli ……………………….”
“Iki piye iki piye…… iki piyee……., mestine ono sing nduwe….”
Zikir Fikir Ikhtiar dan Tawakal
January 26, 2009 at 8:06 pm
he he..kok jadi inget siapa2 orang yg terkait saat masa menunggu itu yom..^_^