Plumbum

Pemimpin yang Visioner

Posted on: December 10, 2008

Pada 1975 Perdana Menteri Lee Kuan Yew membuat kejutan. Pemerintah Singapura yang dipimpinnya saat itu memutuskan membangun Bandara Changi untuk menggantikan Bandara Paya Lebar. Namun, semua orang terbelalak dan menganggap tidak masuk akal ketika Lee membangun Changi – Terminal 1 mulai beroperasi pada 1981 – dengan spesifikasi yang luar biasa untuk ukuran Singapura dengan bisnisnya ketika itu.

Namun Lee sadar benar apa yang dilakukan karena Singapura di masa depan akan seperti apa sudah bisa ia bayangkan. Singapura kedepan adalah Singapura yang memang membutuhkan bandara dengan spesifikasi yang memenuhi tuntutan tinggi perusahaan multinasional terhadap suatu “basecamp“. Padahal ketika ia membuat keputusan itu, Lee dianggap berlebihan dan tidak masuk akal.

Inilah yang disebut pemimpin yang visioner. Seseorang yang mempunyai impian yang luar biasa tentang organisasi yang ia pimpin. Ketika pendapat umum menganggap impian tersebut tidak mungkin, bagi dia itu adalah sangat nyata dan mungkin. Semakin jelas dan nyata impian tersebut di dalam pikirannya, akan semakin mudah ia capai. Karena pimpinan yang visioner akan bertindak dan bereaksi sesuai dengan visi yang dia pikirkan dan apakah disadari atau tidak, organisasi yang dia pimpin akan bergerak ke arah visi tersebut. Selain itu, dia akan menarik orang-orang yang akan membuat visinya menjadi kenyataan.

Satu-satunya cara untuk membenarkan suatu visi, adalah menunggu sampai visi itu terwujud. Karena visi itu ibarat wahyu yang datangnya dari Tuhan. Begitulah definisi wahyu dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia: Petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada nabi dan rasul.

Seseorang yang memiliki visi jauh ke depan, selain karena instuisinya yang tajam yang terbentuk dari kumpulan pengalaman dan pengetahuan, ia juga memiliki kelebihan lain yakni kemampuan menangkap berita dari langit, yaitu ilham atau wahyu tadi.

Bagaimana sebenarnya menyusun visi? Setidaknya ada dua pendekatan. Pertama adalah apa yang umumnya dilaksanakan perusahaan pada tahun 1970-an. Ketika itu orang belum akrab dengan istilah visi tetapi mereka menyebutkan long term planning. Untuk menyusunnya mereka mengekstrapolasi data sejarah agar bagaimana secara kuantitatif kita bisa membuat acuan untuk melangkah ke depan.

Namun cara seperti ini sangat terbatas jangkauannya, paling-paling hanya sampai 5-10 tahun ke depan. Imajinasi kita pun cenderung malas, karena asumsi dasar adalah apa yang selama ini dan sedang dilakukan akan benar seterusnya. Padahal dunia saat ini sudah berubah drastis. Dengan konvergensi telekomunikasi, transportasi dan teknologi komputer, perubahan tidak lagi lurus, melainkan discontinous. Maka ektrapolasi hanya berlaku untuk kurun waktu tertentu saja.

Cara kedua adalah yang kita sebut wahtu, ilham, berita dari langit atau apalah namanya. Tujuan akhir diuraikan sebagai suatu kondisi yang ingin diwujudkan, meski tidak langsung dapat dijelaskan secara detail jalan menuju ke situ.

Nah, untuk menjembantani antara dunia sekarang dengan dunia yang hendak diwujudkan oleh visi itu justru perlu kita lakukan intrapolasi, diikuti ektrapolasi sehingga terjadi interasi yang membuahkan road map yang terarah, terpadu dan terukur dalam pelaksanaanya. Proses inilah yang akan mengisi kekosongan informasi antara dunia sekarang dan dunia yang hendak dicapai visi, sehingga kita bisa menyusun target-target antara, sebuah tonggak-tonggak pengembangan kunci atau key development milestone.

Dengan sendirinya cara ini tetap memperhitungkan masa lampau dan kondisi yang akan datang. Namun kita tidak bisa lagi menggunakan ektrapolasi data sebagai tahap awal. Yang mengilhami kita adalah suatu paham tentang dunia yang mungkin tidak bisa kita jelaskan dengan kondisi nyata kita sekarang.

Ketika kita gambarkan sesuatu berdasarkan wahyu itu, orang sekeliling kita akan menggunakan logika yang laku pada saat itu, sehingga tidak akan nyambung. Persis seperti kata Lee Kuan Yew membangun Changi dengan kapasitas yang berlebihan untuk ukuran saat itu.

Sumber: Mediahulu Nopember 2008

Oleh: Dachriyanti-Praktisi Manajemen

About these ads

2 Responses to "Pemimpin yang Visioner"

Iya, betul juga. Imajinasi kita juga bisa jadi malas, entah karena rasa sok tau atau bahkan acuh tak mau tahu. Bersihnya hati memang penting agar dapat ilham yg benar.

Iya, Membersihkan hati yang susah, gmn ya…
Makasih mAs udah berkunjung..
Pa Kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

December 2008
M T W T F S S
« Sep   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Recent Comments

Adlan on HSE
imam on Safety
Bowo Rusena on HSE
Hery on HSE
cahclp on HSE
girlshopaholic on HSE
Pengertian HSE | on HSE

Blog Stats

  • 87,110 hits

Archives

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: