Posted by: yoma on: June 20, 2008
Perjalanan, merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan manusia, apa lagi pada jaman modern ini. Perjalanan selalu membutuhkan tenaga dan menyita waktu kita, entah itu banyak atau sedikit. Meski dengan berkembangnya teknologi transportasi, jarak tempuh perjalanan tidak selalu berbanding lurus dengan waktu yang dibutuhkan, karena ada faktor lain yang sangat menentukan, yaitu alat transportasi yang dipergunakan.
Demi sebuah perjalanan, banyak hal dan kadang kewajiban yang dengan terpaksa meski kita tinggalkan atau pun kita tunda. Namun ada kewajiban-kewajiban yang tidak boleh kita tinggalkan meski dengan alasan perjalanan. Salah satunya adalah kewajiban terhadap sang khalik, yaitu Sholat 5 waktu. Dalam Islam sudah ditentukan aturan-aturan yang sangat mempermudah bagi para musafir. Sholat yang dilaksanakan dalam perjalanan biasa disebut sholatus safar.
Beberapa alternatif sholat yang dapat kita lakukan jika kita melakukan perjalanan dan melewati waktu sholat adalah sebagai berikut:
1. SHOLAT JAMA’
Sholat Jama’ adalah menggabungkan dua sholat yang berbeda kedalam satu waktu sholat, baik yang awal maupun yang akhir secara berurutan. Sholat-sholat yang dapat di jama’ adalah Dzuhur dengan Ashar atau sebaliknya dan Magrib dengan Isya atau sebaliknya. Jadi shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat Fardhu kecuali shalat Shubuh. Shalat shubuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Dhuhur.
Menjama’ shalat dibolehkan bila seseorang berada dalam keadaan safar (perjalanan). Namun para ulama menetapkan bahwa sebuah safar itu minimal harus menempuh jarak tertentu dan ke luar kota. Di masa Rasulullah SAW, jarak itu adalah 2 marhalah. Satu marhalah adalah jarak yang umumnya ditempuh oleh orang berjalan kaki atau naik kuda selamasatu hari. Jadi jarak 2 marhalah adalah jarak yang ditempuh dalam 2 hari perjalanan.
Ukuran marhalah ini sangat dikenal di masa itu, sehingga dapat dijadikan ukuran jarak suatu perjalanan. Orang arab biasa melakukan perjalanan siang hari, yaitu dari pagi hingga tengah hari. Setelah itu mereka berhenti atau beristirahat.
Para ulama kemudian mengkonversikan jarak ini sesuai dengan ukuran jarak yang dikenal di zaman mereka masing-masing. Misalnya, di suatu zaman disebut dengan ukuran burud, sehingga jarak itu menjadi 4 burud. Di tempat lain disebut dengan ukuran farsakh, sehingga jarak itu menjadi 16 farsakh.
Di zaman sekarang ini, ketika jarak itu dikonversikan, para ulama mendapatkan hasil bahwa jarak 2 marhalah itu adalah 89 km atau tepatnya 88, 704 km.
Maka tidak semua perjalanan bisa membolehkan shalat jama’, hanya yang jaraknya minimal 88, 704 km saja yang membolehkan. Bila jaraknya kurang dari itu, belum dibenarkan untuk menjama’.
Namun dalam prakteknya, bukan berarti jarak itu adalah jarak minimal yang harus sudah ditempuh, melainkan jarak minimal yang akan ditempuh. Berarti, siapa pun yang berniat akan melakukan perjalanan yang jaraknya akan mencapai jarak itu, sudah boleh melakukan shalat jama’, asalkan sudah keluar dari kota tempat tinggalnya.
Selain sebab safar (perjalanan) juga ada hal-hal lain yang membolehkan seseorang melakukan sholat jama’, yaitu sebab sakit, sebab hujan, sebab haji dan sebab keperluan mendesak. Tentunya sebab-sebab tersebut dengan batasan-batasan tertentu yang telah ditentukan.
Sholat jama’ dibagi menjadi 2 bagian
Jama’ taqdim adalah mendahulukan sholat yang awal kemudian sholat yang kedua ( sholat Dzuhur dg sholat Ashar / sholat magrib dg sholat Isya). Syarat-syarat Jama’ Taqdhim adalah dikerjakan dengan tertib yakni sholat yang pertama didahulukan, niat jama’ dikerjakan pada sholat pertama, berturut-turut antara keduanya, tidak boleh diselingi sholat sunnah atau perbuatan lain.
niat sholat jama’ taqdim
اصـلى فـرض الظـهر اربـع ركـعات مجـــموعا الى العـصر لله تعــالى
اصـلى فـرض العـصر اربـع ركـعات مجـــموعا الظـهراليه لله تعــالى
Usollii fardol dzuhri arba’a roka’aatin majmuu’an ilaal ‘asri lillaahi ta’aalaa.
اصـلى فـرض المغـرب ثلاث ركـعات مجـــموعا الى العـشاء لله تعــالى
اصـلى فـرض العـشاء اربـع ركـعات مجـــموعا اليه المغـرب لله تعــالى
Usollii fardol maghribi tsalaasa roka’aatin majmuu’an ilaal ‘isyaai lillaahi ta’aalaa.
Jama’ takhir adalah mendahulukan sholat yang akhir kemudian sholat yang awal diwaktu sholat yang akhir ( sholat Ashar dg sholat Dzuhur / sholat Isya dg sholat magrib ) setelah sholat yang pertama langsung komat untuk mengerjakan sholat yang kedua. Syarat-syarat Jama’ takhir adalah niat jama’ takhir dilakukan pada shalat yang pertama, waktu masih dalam perjalanan, ketika datang waktu sholat yang kedua, membaca niat sholat yang pertama.
اصـلى فـرض العـصر اربـع ركـعات مجـــموعا الى الظـهر لله تعــالىاصـلى فـرض الظـهر اربـع ركـعات مجـــموعا اليه العـصر لله تعــالى
اصـلى فـرض العـشاء اربـع ركـعات مجـــموعا الى العـشاء لله تعــالىاصـلى فـرض المغـرب ثلاث ركـعات مجـــموعا اليه المغـرب لله تعــالى
2. Sholat Qoshor
Qoshor adalah meringkas bilangan rokaat sholat. Sholat yang dapat di qoshor hanya sholat yang berjumlah 4 rakaat seperti Dzuhur, Ashar dan Isya’ .
Contoh Niat sholat Qoshor
3. Sholat Jama’-Qosor
Jama’-Qoshor adalah mengerjakan sholat dengan cara menggabung 2 sholat dalam satu waktu dapat dikerjakan diawal maupun diakhir dan jumlah rokaatnya di ringkas menjadi 2 – 2, dengan 1x adzan dan 2x komat.
Contoh : Dzuhur dengan Ashar , maka cara mengerjakannya dzuhur 2 rokaat dan Ashar 2 rokaat waktunya bisa dilakukan didzuhur atau Ashar. Jika Maghrib dengan Isya maka jumlah rokaat maghrib tetap tidak berubah 3 rokaat.
Niatnya :
Demikian, meski sering jalan-jalan, dan menempuh perjalanan panjang jangan lupa melaksakan sholat 5 waktu ya…
assalamu’alaykum
sebelumnya salam kenal bwt ery2(sory klo commentku jd kyk pemilik blog)
waduh.. ini msalah furu’iyah
krn masing2 pnya dalil
klo niat itu dalam hati, emang bener, tp niat dilafalkan or tidak itu msalah furu’iyah.. alias msalah cabang yg ga perlu diperdebatkan
msalah cabang fikih.. jadi udah bukn masalah pokok, jadi bisa terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama fikih.
saran:coba buka web sitenya NU, nanti pasti pendatpnya beda sma websitenya muhammadiya
oiya lupa pujiannya:power bagus skli tulisannya,kapan menulis tentang “juni”..ccieee
wassalamu alaykum
Wa’alaykumsalam warohmatullahi wabarokatuh
Jazzakumullah khoir
artikel yang bagus brow!!!!!!!!
mau nanya nih….
untuk mengerjakan jamak, qosor or jamak qosor ada sarat2 tertentu gak? pa setiap kita dalam perjalan boleh melakukan salah satu dari jamak, qosor or jamak qosor?
satu lagi…mana yg boleh di lakukan jika kita menetap di suatu tempat selama 2 hari? (misal kita musafir)..terima kasih jawabannya
June 21, 2008 at 7:58 am
assalamu’alaykum…
hmm..niat itu tempatnya dlm hati..lebih afdol apabila tidak diucapkan secara lisan…tau knp???
1).krn Rosululloh SAW tidak memberikan contoh yg dilafadzkan..
bukankah syarat diterimanya suatu amal itu disamping niat yg ikhlas juga ittiba’(mengikuti yg diajarkan Rosululloh SAW)..he..he.he
2).tdk semua orang bs menghafal niat salat, ntar malah sibuk ngapalin niat niy…eh malah ga khusyu’ solatnya..Trus kl niatnya di ucapkn keras2 kan bisa menganggu tetangga sebelahna yg solat…
3).Islam itu mudah tdk akan mempersulit umatnya..
Hayoo..gm? setuju ga niy?
wassalamu alaykum….(^_^)